Pengemis Mengemis Kelengahan Penegak Hukum


Tak dipungkiri bahwa Indonesia adalah Negara berkembang yang persebaran ekonominya kurang merata. Namun tetap saja merata tingkat pengangguranya. Banyak dijumpai  pengangguran dimana-mana. Para pengangguran tersebut memutar otak hingga memecah menjadi beberapa profesi yang berbeda-beda. Sebagian mereka ada yang mengamen, menari terdisional bahkan ada yang pasrah sekali hingga harus menggantungkan hidupnya hanya dengan mengemis. Banyak ditemui gelandangan dan para pengemis entah itu yang berkeliling dirumah-rumah maupun ada yang bertengger di perempatan jalan dekat lampu lalu lintas. Mereka berlomba-lomba memanfaatkan nyala lampu merah hingga berganti nyala lampu hijau. Usia mereka beragam dari orang tua jompo hingga anak dibawah umur. Hanya dengan modal muka kucel dan gelas air mineral bekas ia dapat meraup keuntungan yang tak sedikit.

Yang kemudian menjadi masalah adalah kegiatan mengemis itu dilarang oleh hukum Indonesia. Dan itu tercantum dalam salah satu pasal dalam 504 ayat 1 KUHP tentang ketertiban umum yang berbunyi “barang siapa mengemis di muka umum, diancam karena melakukak pengemisan dengan pidana kurungan paling lama enam minggu”. Lalu kemudian timbul petanyaan, lah kenapa kalo profesi “ngemis”  itu dilarang tapi kok seakan para polisi membiarkan begitu saja? Inilah yang menjadi salah satu bukti bahwa para penegak hukum mengalami kualahan mengatasi para pengemis yang tak sedikit jumlahnya itu datang dan diusir kemudian kembali lagi dan diusir lagi. Apalagi sanksi yang ada terhadap para pengemis itu juga bisa dibilang ringan, bayangkan saja mereka hanya diberi kurungan paling lama enam minggu saja. Mungkin bagi para pengemis itu hal yang bisa dibilang menguntungkan karena dalam kurunganpun malah mendapat jaminan hidup dari lapas. Maka tak elak bila pengemis itu tertangkap kemudian dikurung kemudian mungkin saja besok pagi sudah kemabli lagi mengemis diperempatan jalan.

Bagaimana pak polisi tidak bingung mengatasi pengemis yang mayoritas bandel itu. Hingga yang ada sekarang yaitu pak polisi sudah sering terlihat mebiarkan pelanggaran oleh bagian dari rakyat Indonesia itu. Pak polisi terkesan hanya menindak para pelanggar lalu lintas saja pahal banyak pengemis yang seharusnya ditangkap itu juga harus ditindak. Memanglah sulit untuk mengatasi masalah pengemis hingga menyurutkan semangat penegak hukum kita. Ada baiknya bila kita perlu mensosialisasikan sadar hukum agar tercipta kehidupan yang aman dan tentram. Hendaknya masyarakat saling mengingatkan dan saling memperbaiki. Dalam masalah ini memang perlu kerjasama antara masyarakat dengan penegak hukum. Andai saja kita juga taat pada hukum kita pasti tidak akan memberi mereka uang agar tidak doyan mengemis seperti yang ada sekarang ini. Ketidak tahuan akan hokum menjadi salah satu factor utama mengenai larangan mengemis dan memberi kepada pengemis. Hingga kini muncul asumsi bahwa jika tidak memberi itu termasuk orang yang pelit maka banyak orang yang mengasihani para pengemis tadi. Tapi yang terjadi sekarang adalah pengemis mengemis kelengahan penegak hukum dan penegak hukum lalai kemudian meneguk pasal tentang ketertiban umum.

by Khilma Latifiarni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s